Selasa, 20 Desember 2016

JARINGAN PENGANGKUT



JARINGAN PENGANGKUT
Jaringan pengangkut pada tumbuhan terdiri dari xilem dan floem. Xilem meliputi trakea dan trakeida serta unsur-unsur lain seperti serabut dan parenkim xilem. Xilem berfungsi untuk mengangkut mineral dan air dari akar sampai daun. Sedangkan floem terdiri dari unsur-unsur tapis, sel pengiring, dan parenkim floem. Floem berfungsi untuk mengangkut hasil fotosintesis dari daun ke bagian organ tumbuhan.
1.      Xilem
Xilem merupakan jaringan pengangkut yang kompleks terdiri dari berbagai macam bentuk sel. Umumnya sel-sel penyusun xilem telah mati dengan dinding sel yang sangat tebal, tersusun dari zat lignin sehingga xilem berfungsi juga sebagai jaringan penguat. Unsur-unsur xilem terdiri dari unsur trakeal, serat xilem, dan parenkim xilem.
          
a.       Unsur Trakeal
Unsur trakeal merupakan unsur yang berfungsi dalam pengangkutan air beserta zat terlarut di dalamnya, dengan sel-sel yang memanjang, tidak mengandung protoplas (bersifat mati), dinding sel berlignin,mempunyai macam-macam noktah. Unsur trakeal terdiri dari dua macam sel, yaitu trakea dan trakeida. Trakea (pembuluh kayu) terdiri dari deretan sel yang tersusun memanjang dengan ujung berlubang dan bersambungan pada ujung dan pangkalnya, sedangkan trakeida merupakan sel panjang dan ujung yang runcing tanpa adanya lubang sehingga pengangkutan melalui pasangan noktah pada dua ujung trakea yang saling menimpa. Bagian trakea yang berlubang disebut lubang perforasi, yaitu lempeng perforasi sederhana dengan sebuah lubang yang memenuhi seluruh dinding ujung sel yang ditempati, lempeng perforasi skalariform dengan lubang pipih dan sejajar lempeng sehingga menunjukkan bentuk tangga, lempeng perforasi jala dengan jalinan lubang membentuk jala. Lempeng perforasi skalariform dan jala juga disebut lempeng perforasi majemuk.
b.      Serat Xilem
Serat xilem merupakan sel panjang dengan dinding sekunder yang biasanya berlignin. Ada dua macam serat pada tumbuhan, yaitu serat trakeid dan serat libriform. Serat libriform mempunyai ukuran lebih panjang dan dinding selnya lebih tebal dibandingkan dengan serat trakeid. Dijumpai adanya serat sederhana pada serat libriform, sedangkan serat trakeid memiliki serat terlindung.
c.       Parenkim Xilem
Parenkim xilem biasanya tersusun dari sel-sel yang masih hidup. Dijumpai pada xilem primer maupun xilem sekunder. Pada xilem sekunder terdapat dua macam parenkim, yaitu parenkim kayu dan parenkim jari-jari empulur. Parenkim kayu sel-selnya dibentuk oleh sel-sel pembentuk fusi unsur-unsur trakea yang sering mengalami penebalan sekunder pada dindingnya. Dijumpai adanya noktah berhalaman dan noktah biasa. Sel-sel parenkim xilem berfungsi sebagai tempat cadangan makanan. Zat tepung biasanya tertimbun sampai pada saat-saat giatnya  pertumbuhan kemudian berkurang bersamaan dengan kegiatan kambium. Parenkim jari-jari empulur tersusun dari sel-sel yang pada umumnya mempunyai dua bentuk dasar, yaitu sel-sel yang bersumbu panjang ke arah radial dan sel-sel bersumbu panjang ke arah vertikal
2.      Floem
Floem merupakan jaringan pengangkut yang tersusun dari berbagai macam bentuk sel-sel yang bersifat hidup dan mati. Unsur-unsur floem meliputi unsur tapis, sel pengiring, sel albumin (pada Gymnospermae), serat-serat floem dan parenkim floem.
             
a.       Unsur-unsur Tapis
Ciri khas dari unsur tapis adalah hanya daerah tapis dindingnya tipis dan inti hilang dari protoplas. Daerah tapis diartikan sebagai daerah noktah yang termodifikasi dan tampak sebagai daerah cekung di dinding berpori-pori. Pori-pori tersebut dilalui oleh plasmodesta yang menghubungkan dua unsur tapis yang berdampingan. Sel-sel tapis merupakan sel panjang yang ujungnya meruncing di bidang tangensial dan membulat di bidang radial. Dinding lateral banyak mengandung daerah tapis yang berpori. Pada komponen bulu tapis, dinding ujungnya saling berlekatan dengan dinding ujung sel bawahnya atau di atas sehingga membentuk deretan sel-sel memanjang yang disebut pembuluh tapis.
b.      Sel Pengiring
Sel pengiring berhubungan erat dengan pembuluh tapis. Sel-sel pengiring biasanya merupakan untaian atau deretan yang menyerupai sel parenkim dengan sel-sel yang bersifat hidup.sel pengiring diduga berperan dalam keluar masuknya zat-zat makanan melalui pembuluh tapis.
c.       Sel Albumin
Sel albumin merupakan sel jari-jari empulur dan sel-sel parenkim buluh tapis yang mengandung banyak zat putih telur dan terletak dekat dengan sel-sel tapis ganda pada tumbuhan Gymnospermae. Diduga sel-sel albumin mempunyai fungsi serupa dengan sel pengiring.
d.      Serat-serat Floem
Letak serat-serat floem pada berkas floem bervariasi. Pada floem primer, serat terdapat pada bagian jaringan sebelah luar yang awalnya berkelompok membentuk suatu klaster atau masa kemudian dalam perkembangannya akan menjadi homogen. Sedang pada floem sekunder letak serat mengikuti berbagai pola. Serat dewasa dapat bersifat hidup maupun mati. Serat hidup dapat berfungsi sebagai tempat penyimpanan cadangan makanan.
e.       Parenkim Floem
Parenkim floem merupakan jaringan parenkim biasanya terletak di bagian buluh tapis, merupakan sel hidup yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan zat-zat tepung, lemak, dan zat-zat organik lainnya.


Tipe-tipe Berkas Pengangkut
Keberadaan xilem dan floem dalam jaringan primer selalu berpasangan dan merupakan suatu berkas yang disebut pengangkut.
Berdasarkan posisi atau letak xilem dan floemnya, berkas pengangkut dibedakan menjadi 3 tipe dasar, yaitu kolateral, konsentris dan radial. Masing-masing tipe dasar terbagi lagi menjadi tipe-tipe yang lebih spesifik.
1.      Tipe Kolateral
Berkas pengangkut  tipe kolateral didefinisikan sebagai berkas pengangkut dengan kondisi xilem dan floem terletak berdampingan, floem berada di bagian luar dari xilem. Tipe kolateral terbagi menjadi tiga , yaitu kolateral terbuka, kolateral tertutup, dan bikolateral.
a.       Tipe Kolateral Terbuka
Apabila diantara xilem dan floem terdapat kambium maka berkas pengangkut ini disebut tipe kolateral terbuka. Selain berfungsi sebagai penghubung antara xilem dan floem, kambium juga berperan dalam pembentukam floem ke arah luar dan xilem ke arah dalam. Kambium fasikuler apabila kambium terletak di antara xilem dan floem dan kambium interfasikuler apabila kambium terletak di luar xilem dan floem. Berkas pembuluh tipe ini dijumpai pada tumbuhan Dicotyledoneae dan Gymnospermae.
b.      Tipe Kolateral Tertutup
Apabila diantara xilem dan floem berdampingan langsung tanpa adanya kambium maka berkas pengangkut ini disebut tipe kolateral tertutup. Berkas pembuluh tipe kolateral tertutup ini kadang dikelilingi jaringan sklerenkim. Berkas pengangkut tipe ini dijumpai pada tumbuhan golongan Monocotyledonae.
c.       Tipe Bikolateral
Berkas pengangkut bikolateral apabila adanya floem luar dan floem dalam. Diantara floem luar dan xilem dijumpai adanya kambium. Keberadaan kambium diantara floem dan xilem masih kurang jelas, mungkin hanya berupa parenkim penghubung.
2.      Tipe Konsentris
Berkas pengangkut tipe konsentris merupakan berkas pengangkut dengan kondisi xilem dikelilingi floem atau sebaliknya. Tipe konsentris terbagi menjadi konsentris amphikibral dan konsentris amfivasal.
a.       Konsentris Amphikibral
Apabila xilem berada di tengah dan floem mengelilingi xilem. Umumnya dijumpai pada golongan paku-pakuan (Pteridophyta).

b.      Konsentris Amfivasal
Apabila floem di tengah dan xilem mengelilingi floem. Contohnya pada Cirdyline sp. Dan rhizome Acorus calamus.
3.      Tipe Radial
Berkas pengangkut tipe radial merupakan berkas pengangkut dengan letak xilem dan floem bergantian dan berdampingan menurut jari-jari lingkaran. Dijumpai pada akar tumbuhan Monocotyledonae dan akar primer Dicotyledonae.
                             
Gambar Perbandingan Berkas Pengangkut pada
Monocotyledonae dan Dicotyledonae




Referensi :
http://.upi.edu/Direktori/FPMIPA/JUR.PED.BIOLOGI/196607161991011AMPRASTO/bahan-kuliah/e-learningantum/Jaringan Pengangkut (8).pdf Diakses di Yogyakarta pada tanggal 28 Mei 2016 pukul 11:00 WIB.
http://www.docs-engine.com/pdf/1jurnal-pengertian-xilem-dan-floem.html Diakses di Yogyakarta pada tanggal 28 Mei 2016 pukul 11:05 WIB.
Agustin,Maria.2009.http://www.Jaringan-pada-tumbuhan-plant-tissues.pdf  Diakses di Yogyakarta pada tanggal 9 April 2016 pukul 10:30 WIB.
Setjo,Susetyoadi,dkk.Common Textbook (Edisi Revisi) Anatomi Tumbuhan.Malang:

Kamis, 24 November 2016

AMPHIBI


Amphibia
Istilah Amphibia berasal dari bahasa Yunani yaitu amphi yang berarti kedua, dan bios berarti hidup. Amphibia hidup di darat dan air tawar. Amphibia pertama kali muncul zaman Devonian yaitu Era Paleozoic yakni sekitar 350 juta tahun lalu.  
Amphibia dapat hidup di darat dan di air, pada Amphibia muda hidup di air menggunakan alat pernapasan berupa insang dan ketika sudah dewasa akan hidup di darat dengan alat pernapasan berupa paru-paru. Amphibia memiliki kulit yang selalu basah yang berguna dalam membantu pernapasan karena kulitnya mengandung berbagai pembuluh darah. Amphibia bergerak dengan empat kaki. Pada perkembangbiakan Amphibia dimana amphibia berkembang biak dengan bertelur yang pembuahannya dilakukan secara eksternal. Amphibia yang bertelur akan menuju ke air untuk mengeluarkan telur-telurnya. Amphibia mengalami metamorfosis mulai dari zigot-embrio-berudu-katak kecil-katak dewasa.
Ciri-Ciri Umum Amphibia
 Dari setiap jenis-jenis amphibia memiliki ciri-ciri yang berbeda dan ada juga yang memiliki kesamaan dimana pada kali ini yang dapat kami simpulkan ciri-ciri umum Amphibia. Ciri-ciri umum Amphibia adalah sebagai berikut :


  1. Amphibia memiliki dua pasang kaki yang digunakan untuk berjalan, melompat dan berenang : Contohnya pada katak, kaki katak pada bagian belakang lebih panjang daripada kaki depannya. Rangka kaki katak bagian depan terdiri dari humerus, radioulna, karpal, metakarpal, dan falang (tulang jari-jari). Sedangkan rangka kaki belakang adalah terdiri dari femur, tibio-fibula, tarsal, metatarsal, dan falang. Pada kaki depan mempunyai empat jari, sedangkan pada kaki belakang mempunyai lima jari dimana diantara jari-jari tersebut terdapat selaput renang. 
  2. Bagian-bagian tubuh amphibia adalah kepala dan badan seperti katak, atau kepala, badan ekor seperti yang terdapat pada salamander. 
  3. Kulit yang lunak, berkelenjar dan juga selalu basah. Kulit amphibia tidak bersisik kecuali salamander. Di antara kulit dan jaringan otot dimana dibawahnya terdapat berupa rongga yang berisi cairan limfa. Pada bangkong yang berwarna cerah, kulitnya menghasilkan cairan beracun bagi hewan lainnya. 
  4. Pernapasan Amphibia berupa insang, kulit dan juga paru-paru. Seperti katak dewasa yang bernapas dengan menggunakan paru-paru yang berupa kantong-kantong dengan dinding yang memiliki sejumlah ruangan. 
  5. Amphibia adalah hewan berdarah dingin (poikiloterm).
  6. Pada jantung Amphibia yang terdiri atas tiga ruangan. tiga ruangan itu adalah satu ventrikel dan dua untuk atrium. Merupakan peredaran darah tertutup ganda, artinya darah akan dua kali melewati jantung pada satu kali peredaran. 
  7. Sistem pencernaan lengkap yaitu mulai dari mulut, faring, esofagus (kerongkongan), lambung, usus, dan rektum yang langsung bersatu dengan kloaka. Contohnya katak, memiliki mulut yang sangat lebar dan juga gigi-gigi yang kecil di sepanjang rahang atas. Di langit-langit mulut terdapat gigi vormer. Lidah yang bercabang dua pada bagian ujungnnya dan pada permukaannya mengandung zat perekat yang digunakan untuk menangkap serangga. Amphibia juga memiliki hati, kantong empedu, dan pankreas. 
  8. Sistem ekskresi berupa ginjal tipe mesonefroid dan saluran kemih (saluran wolf atau saluran mesonefros) yang membawa sekret ke kloaka. Amphibia juga memiliki kandung kemih yang ada disebelah sisi ventral kloaka. 
  9. Sistem Indra pada Amphibia terdiri atas mata, lubang hidung, dan juga telinga. Pada mata dilindungi oleh membran niktitans (selaput tidur), kelopak mata atas dan kelopak mata bawah. Hidup amphibia memiliki dua lubang hidung (nares) yang berhubungan dengan rongga mulut melalui koane. Sedangkan pada telinga, berkembang baik, karena terdiri atas dua bagian yaitu telinga tengah dan telinga dalam dan tidak memiliki telinga luar. Pada telinga yang ada dibagian tengah berhubungan dengan faring melalui tabung Eustachius. Katak dan bangkong memiliki selaput telinga yang disebut membran timpani pada bagian telinga tengah. Pada salamander tidak memiliki selaput telinga, sehingga hanya dapat merasakan gerakan suara melalui kaki depan. 
  10. Pada perkembangbiakan Amphibia, Amphibia memiliki alat kelamin yang terpisah. Umumnya Amphibia bersifat ovipar, namun ada juga yang ovovivipar dan vivipar dimana telur tersimpan dalam saluran reproduksi betina. 
Klasifikasi Amphibia
 Dalam klasifikasi Amphibia dimana ada terdapat sekitar 4.000 spesies Amphibia, yang diklasifikasikan dalam beberapa ordo. Klasifikasi Amphibia adalah sebagai berikut :
  1. Apoda (Gymnophiona), contohnya Ichtyophis glutinosus (salamander cacing).
  2. Urodela (Caudata), contohnya Plethodon glutinosis (Salamander berlendir).
  3. Anura (Salientia), contohnya bangkong (Bufo bufo) dan katak pohon (Hyla caerulea).


Peranan Amphibia
Amphibia memiliki banyak manfaat bagi manusia. Peranan amphibia atau manfaat amphibia bagi kehidupan manusia adalah sebagai berikut :
  1. Katak diambil daging dan telurnya yang kemudian dikonsumsi. 
  2. Kulit katak dapat dibuat jaket dan barang kerajinan lainnya jika diberi samak. 
  3. Katak berfungsi sebagai pemberantas nyamuk yang dilakukan secara biologi dan juga sebagai pengendali serangga hama pada pertanian.
  4. Katak dapat digunakan dalam tes kehamilan seperti Bufo melanostictus, karena dapat menghasilkan hormon perang gonad yang efeknya sama dengan hormon perangsang gonad yang terdapat dalam urine wanita hamil. 
  5. Dapat digunakan sebagai racun untuk anak panah hal ini dilakukan orang Indian.
  6. Racun bufotalin dan Bufotenin dihasilkan oleh jenis kodok Bufo marinus yang dimanfaatkan sebagai penguat denyut jantung.
Referensi :
Ringkasan :
      Istilah Amphibia berasal dari bahasa Yunani yaitu amphi yang berarti kedua, dan bios berarti hidup. Amphibia hidup di darat dan air tawar.
 Amphibia memiliki dua pasang kaki yang digunakan untuk berjalan, melompat dan berenang. Memiliki kulit yang lunak, berkelenjar dan juga selalu basah. Pernapasan Amphibia berupa insang, kulit dan juga paru-paru. Amphibia adalah hewan berdarah dingin (poikiloterm). Pada jantung amphibia yang terdiri atas tiga ruangan yaitu satu ventrikel dan dua untuk atrium. Sistem pencernaan lengkap yaitu mulai dari mulut, faring, esofagus (kerongkongan), lambung, usus, dan rektum yang langsung bersatu dengan kloaka. Sistem ekskresi berupa ginjal tipe mesonefroid dan saluran kemih yang membawa sekret ke kloaka. Sistem Indra pada Amphibia terdiri atas mata, lubang hidung, dan juga telinga. Amphibia memiliki alat kelamin yang terpisah. Umumnya Amphibia bersifat ovipar, namun ada juga yang ovovivipar dan vivipar. Amphibia memiliki banyak manfaat bagi manusia salah satunya kulit amphibia dapat dibuat jaket dan barang kerajinan lainnya jika diberi samak.
 Klasifikasi Amphibia ada 3 yaitu Apoda (Gymnophiona), contohnya Ichtyophis glutinosus (salamander cacing); Urodela (Caudata), contohnya Plethodon glutinosis (Salamander berlendir); dan Anura (Salientia), contohnya bangkong (Bufo bufo) dan katak pohon (Hyla caerulea).
           

Sabtu, 19 November 2016

Pertumbuhan dan Perkembangan pada Tumbuhan



PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN PADA TUMBUHAN

            Pertumbuhan dan perkembangan dimulai dengan perkecambahan biji. Kemudian kecambah berkembang manjadi tumbuhan kecil dan kemudian tumbuh membesar. Setelah masa tertentu, tumbuhan akan berbunga dan menghasilkan biji.
            Berdasarkan lama hidupnya, tumbuhan dibagi menjadi tiga, yaitu tumbuhan semusim/ tahunan (annual), dwi tahunan (biennial) dan menahun (perennial). Tumbuhan semusim adalah tumbuhan yang masa hidupnya kurang dari satu tahun atau maksimal satu tahun, contohnya palawija. Tumbuhan dwi tahunan adalah tumbuhan yang mulai tumbuh sampai menghasilkan biji memerlukan waktu dua tahun, contohnya bit. Tumbuhan menahun adalah tumbuhan yang umurnya dapat mencapai ratusan tahun, contohnya pohon-pohon berkayu dan Zingiberaceae.
Fase pertumbuhan pada tumbuhan :
1. Perkecambahan
            Perkecambahan adalah munculnya plantula tanaman kecil dari dalam biji. Proses perkecambahan meliputi proses fisika dan kimiawi. Proses fisika ini terjadi ketika biji menyerap air (imhibisi) akibat dari potensial air rendah pada biji yang kering. Sedangkan proses kimia terjadi saat masuknya air sehingga biji mengembang dan kulit biji akan pecah. Air yang masuk mengaktifkan embrio untuk melepaskan hormon giberelin (GA). Hormone ini mendorong aleuron (lapisan tipis bagian luar endosperma) untuk menyintesis dan mengeluarkan enzim. Enzim bekerja dengan menghidrolisiscadangan makanan yang terdapat dalam kutiledon dan endosperma. Proses ini menghasilkan molekul kecil yang larut dalam air misalnya enzim amilase menghidrolisispati dalam endosperma menjadi gula. Lalu gula dan zat-zat lainnya diserap dari endosperma oleh kutiledon selama pertumbuhan embrio menjadi bibit tumbuhan.
            Perkecambahan dibedakan menjadi dua yaitu epigeal dan hipogeal. Epigeal apabila terjadi pembentangan ruas batang di bawah daun lembaga atau hipokotil sehingga mengakibatkan daun lembaga dan kutiledon terangkat ke atas tanah, misalnya pada kacang tanah. Hipogeal  yaitu apabila terjadi pembentangan ruas batang teratas (epikotil) sehingga daun lembaga ikut tertarik ke atas tanah, tetapi kutiledon tetap di dalam tanah, misalnya pada kacang kapri.   


Gambar perkecambahan epigeal dan hipogeal 

            Perkecambahan hanya terjadi jika syarat-syarat yang dibutuhkan terpenuhi, yaitu air yang cukup, suhu yang sesuai, udara yang cukup, dan cahaya matahari yang optimal. Jika syarat-syarat tersebut tidak terpenuhi biji akan tetap dalam keadaan tidur (dorman).
            Irisan membujur ujung akar muda menunjukkan adanya empat daerah pertumbuhan, yaitu tudung akar, daerah pembelahan sel (meristem), daerah pemanjangan sel, dan pemasakan sel (diferensiasi).


Gambar struktur anatomi akar dikotil

a. Tudung akar
            Tudung akar merupakan daerah akar bagian paling ujung. Fungsi tudung akar adalah menyekresikan cairan polisakarida untuk melumasi tanah di sekitar titik pertumbuhan akar dan melindungi daerah meristem akar. Cairan ini menyebabkan tanah menjadi lunak dan mudah ditembus akar.
b. Daerah meristem
            Daerah meristem terletak di belakang tudung akar, yang meliputi meristem apikal dan derivatnya. Meristem apikal merupakan daerah pusat pembelahan sel yang menghasilkan sel-sel meristem primer untuk menggantikan sel-sel di tudung akar yang tanggal.
c. Daerah pemanjangan
             Daerah pemanjangan terletak di belakang daerah meristem. Sel-sel di daerah pemanjangan membelah lebih lambat daripada sel meristem. Sel-selnya lebih tahan terhadap kerusakan yang disebabkan oleh radiasi dan bahan kimia beracun dibandingkan daerah lain. Sel di daerah pemanjangan ini berfungsi sebagai penyimpanan makanan.
d. Daerah diferensiasi
            Daerah diferensiasi terletak di bagian akhir akar, bercampur dengan daerah pemanjangan. Di daerah diferensiasi sel-sel dari daerah pemanjangan mulai terspesialisasi struktur dan fungsinya. Di daerah diferensiasi  terdapat tiga sistem jaringan yang dihasilkan dari sel-sel meristem yaitu protoderma, meristem dasar, dan prokambium. Protoderma yaitu lapisan terluaryang akan menjadi epidermis. Meristem dasar merupakan lapisan kedua yang akan berkembang menjadi sistem jaringan dasar. Sedangkan prokambium merupakan lapisan puast (dalam) yang akan berkembang  menjadi xilem dan floem.
2. Pertumbuhan dan Perkembangan Organ Tumbuhan
            Pertumbuhan dan perkembangan pada tumbuhan terjadi di bagian ujung akar dan ujung batang. Pertumbuhan dan perkembangan batang meliputi pemanjangan dan diferensiasi. Pada tumbuhan dikotil terjadi pertumbuhan sekunder yaitu pada kambium. Jaringan kambium dapat membelah secara mitosis ke arah dalam membentuk xilem dan  ke arah luar membentuk floem.
Pembentukan xilem dan floem sekunder dipengaruhi oleh musim dan menimbulkan adanya lingkaran tahun. Di daerah empat musim, pertumbuhan terjadi pada musim semi. Peristiwa dorman terjadi pada musim dingin dan musim gugur. Pada musim panas, pembuluh xilem berukuran kecil.
Meristem apikal (titik tumbuh) batang merupakan massa berbentuk kubah yang dibentuk oleh sl-sel yang membelah pada ujung tunas atau sering disebut kuncup. Seperti pada akar, meristem apikal batang, prokambium, dan meristem dasar akan berdiferensiasi menjadi tiga sistem jaringan. Daun muncul sebagai tonjolan kecil di sisi-sisi meristem apikal dan disebut primordium. Tunas samping (aksilar) tumbuh dari sel-sel meristem di kanan kiri meristem apikal  di dasar primordium daun dan berpotnsi membentuk cabang batang.


Gambar irisan membujur ujung batang

3. Kurva Sigmoid Pertumbuhan
Pertambahan volume sel merupakan hasil sintesis dan akumulasi protein, sedangkan pertambahan jumlah sel terjadi dengan pembelahan sel. Secara umum, pertumbuhan tumbuhan awalnya berjalan lambat kemudian menjadi lebih cepat hingga tercapai kondisi maksimum, dan akhirnya kembali menurun.
Pada proses pertumbuhan, terdapat tiga fase utama yang mudah dikenali, yaitu fase logaritmik, fase linier, dan fase penuaan. Fase logaritmik yaitu laju pertumbuhan lambat pada awalnya tetapi setelah itu meningkat terus. Pada fase linier pertambahan ukuran berlangsung secara konstan. Pada fase penuaan laju pertumbuhan yang menurun terjadi pada saat tumbuhan sudah mencapai kematangan dan mulai menua. Proses pertumbuhan dapat dilihat dalam selang waktu tertentu dan dapat dinyatakan dalam bentuk kurva pertumbuhan. Kurva menunjukkan ukuran kumulatif sebagai fungsi dari waktu. Kurva sigmoid ini berlaku pada semua bagian tumbuhan. Kurva sigmoid berguna dalam melakukan penelitian-penelitian lebih lanjut tentang pertumbuhan dan perkembangan pada tumbuhan karena kurva ini menujukkan tahap-tahap perkembangan tumbuhan.   

Referensi :
Maryati, Sri, dkk. 2012. BIOLOGI UNTUK SMA/MA KELAS XII. Jakarta: Erlangga.